Untitled Document
Biography

Baginya industri musik bisa jadi sesuatu yang asing. Mengingat keseharian pria berkacamata ini jauh dari kegiatan bermusik. Akuntan yang telah bekerja sebagai profesional di berbagai perusahaan, sehari-hari lebih sering menghabiskan waktu dengan angka-angka sesuai dengan latar belakang pendidikan yang dimiliki.

Namun ditengah rutinitas sehari-hari, musik yang disebutkannya sendiri sebagai ‘hobby’, adalah hal yang tidak pernah dilewatkan. Bermain musik, menulis lagu, menyanyi atau bahkan hanya dengan mendengarkan lagu-lagu kesukaan adalah sesuatu yang pasti dilakukan setiap hari. Belajar musik secara otodidak, pernah pula menimba ilmu musik secara non formal dari teman-teman bermusiknya, bermain musik dari satu panggung kepanggung lain semasa sekolah, sempat membuat mimpi masa remajanya adalah untuk menjadi seorang musisi terkenal. Sampai sekian lama mimpi itu terlupakan oleh jalan hidup yang dengan sadar ia pilih sendiri.


Sampai suatu ketika, saat senggang duduk bermain piano memainkan beberapa lagu-lagu karya sendiri, ia seolah terbawa kedalam kilas balik kehidupan bermusiknya. Dimana pernah beberapa lagu yang ia tulis menjadi semi finalis Lomba Cipta Lagu Remaja Prambors yang saat itu masih menjadi barometer bagi para pencipta lagu muda untuk berkompetisi. Atau juga lagu-lagu ciptaannya yang pernah menjadi bagian dari kehidupan berkesenian di kampus dulu. Maka munculah suatu ide untuk mendokumentasikan lagu-lagu tersebut kedalam sebuah mini album. Tidak ada target yang muluk, ia hanya ingin agar banyak orang bisa ikut mendengar, menikmati, bahkan menyanyikan lagu-lagu karyanya.


Pertengahan tahun 2013, ia berdiskusi dengan Alvin Yunata (ex Harapan Jaya) tentang keinginan untuk mengaransir dan mengkompilasi lagu-lagu tersebut kedalam suatu album. Gagasan ini disambut baik oleh Alvin yang kemudian menjadi produser untuk album ini. Dari Alvin pula kemudian hadir Mondo Gascaro (ex Sore) dan Adink Permana (ex The Upstairs & Clarinet) sebagai peñata musik. Setelah melalui proses kreatif yang cukup panjang dan dengan bantuan teman-teman dari distributor, maka rampunglah album “Krisna” yang diharapkan dapat menjadi salah satu sumbangsih untuk mewarnai musik pop Indonesia saat ini.

Seperti ia akui sendiri bahwa lagu-lagunya mungkin terkesan 90’s. Tetapi ia ingin agar diinterpretasikan dan diaransir oleh cita rasa ‘anak muda’, sehingga masih mendapat tempat untuk ‘didengar’ dan ‘up to date’ sampai sekarang. Sebagai penguat rasa 90’s tersebut, satu lagu ‘recycle’ yang pernah jadi ‘hits’ di masanya, “Saat Denganmu” karya Putut Mahendra, diaransir kembali dengan nafas kekinian. Seolah berkomentar atas musiknya sendiri, ia berujar untuk menggambarkan lagu yang dimainkan: “90's music with today's taste, so that's what I called RETRO".

BIOGRAPHY
2014 Krisna Mega