Untitled Document


DIBALIK CERITA “PEMUSIK KECILKU”
Djudju, seorang sahabat bermusik sejak lama, memperdengarkan nada-nada riang di pianonya. Entah kenapa, langsung terbayang di benak ini, anak saya, Daryl –waktu itu masih balita- yang kerap memukul-mukul tuts piano dengan celotehnya yang tidak dapat saya mengerti. Begitu senangnya ia dengan suara dentingan piano yang tidak beraturan, lengkap dengan gelak suara tawa, membuat suasana menjadi riuh dan gembira. Dalam pembuatannya, lirik lagu ini pun mengalir begitu saja. Bercerita tentang keceriaan dan kebahagiaan, tentang harapan dan doa, buat dia, si Pemusik Kecilku.



NIKMATI “MALAM BERDUA”



Pernahkah anda berada disamping orang yang membuat rasa senang luar biasa? Pasti orang itu yang telah membuat anda jatuh hati. Apalagi saat itu anda tengah berdua saja dengannya. Dimanapun tempatnya, bagaimanapun suasananya, pasti ada yang berbeda, yang membuatnya menjadi lebih istimewa. Bisa jadi, saat-saat seperti inilah yang selalu ditunggu. Ditengah kesibukan yang selalu mengejar, himpitan waktu yang selalu mengikuti, rutinitas yang harus dijalani, anda dan kita semua perlu rehat. Perlu dimana rasa dan jiwa dibuat nyaman, tenang dan bahagia. Berbagi cerita, berbagi rasa, menikmati malam sambil menghabiskan semua yang tersaji dengan orang yang dikasihi adalah waktu yang tak ternilai bagi jiwa yang letih oleh ritme kesibukan sehari-hari. Hidup perlu keseimbangan dan hanya dengan meluangkan untuk berbagi waktu bersama dengan orang yang dikasihi, akan membuat hidup menjadi lebih mempunyai makna. Karena itu, nikmatilah “malam berdua”.



BEKERJA BERSAMA “MEREKA”

Membuat album rekaman bisa jadi adalah sesuatu yang sudah nyaris terlupakan. Tetapi pada saat ada kesempatan dan kemampuan untuk mewujudkannya, ternyata membawa pengalaman yang menyenangkan. Tidak terbayangkan sebelumnya kerumitan yang akan dihadapi, karena menyangkut kreativitas, tentunya menggabungkan beberapa kepala yang mempunyai pemikiran dan selera berbeda untuk menjadi satu kata sepakat adalah sesuatu seni tersendiri. Pada saat pertama berdiskusi dengan Alvin (produser) tentang keinginan mengaransir lagu-lagu saya, dalam benak saya sudah ada pertanyaan, mau dibawa kemana warna albumnya. Setelah berdiskusi dan bersepakat, hadirlah Mondo dan Adink (arranger) yang merubah konsep tadi menjadi sesuatu yang bisa didengar dan dirasakan. Di tahap ini tentunya ada lagi perbedaan pendapat, “mereka” (Alvin, Mondo & Ading) boleh dibilang memperlakukan lagu saya berbeda dengan apa yang sudah terlanjur tertanam di benak saya. Tetapi jujur saja, sepertinya saya menemukan sesuatu yang ‘lain’, yang lebih segar dan membuat ego saya mencair. Walaupun memang ada di beberapa bagian yang harus dirubah sesuai dengan keiniginan saya, namun di situlah kenikmatan dari suatu kerjasama. Ada saatnya bertahan, namun ada saatnya mengalah untuk mendapatkan hasil yang terbaik. Sebagai gambaran, lagu “Kau, Hujan dan Rindu” yang terasa lebih nge’groove’ dibandingkan dengan beat pada saat lagu tersebut dibuat. Lagu “Indah” yang aslinya lebih ‘mellow’, ditambah tiupan ‘horn section’ dan suara ringan Witrie ternyata menjadi lebih riang, menjadi lebih pas dengan cerita lagunya. Sebaliknya lagu “Pemusik Kecilku” dan “Malam Berdua” yang setelah diaransir terkesan monoton, ternyata bisa direvisi menjadi lebih rancak, riang dan penuh variasi. Berbeda dengan “Setahun Yang T’lah Berlalu” yang di aransir pas dengan apa yang saya bayangkan sebelumnya. Semua dinamika pada saat pembuatan album ini menjadi sebuah pengalaman yang menyenangkan buat saya. Buat ‘mereka’, you guys are the best. You have made my dreams come true and thank you for making it so much fun.



JAMAN KEEMASAN MUSIK POP

Suatu kali dalam perjalanan pulang, saya mendengarkan stasiun radio yang kebetulan hari itu sedang memutar lagu-lagu slow sepanjang hari. Sambil terus berjalan, pikiran saya melayang jauh ke era lagu-lagu yang sedang diputar. Yaitu tahun 80 sampai awal 90. Memang lagu-lagu dari masa itulah yang mendominasi playlist mereka malam itu. Siapa tak kenal “Can’t Fight This Feeling” (Reo Speedwagon), “That’s What Friends Are For” (kebetulan versi Rod Stewart yang diputar – ini memang yang lebih dulu keluar sebelum Dionne Warwick), “Sebatas Mimpi” (Rita Effendy) atau “Forever Young” nya Alphaville. Di malam berikutnya, saya sengaja cari gelombang radio lain. Kali ini memang lagu-lagu rancak ala Beyonce, Justin Timberlake, Bruno Mars atau Maroon5 yang menghentak. Tetapi saya sempat tertegun saat “Wake Me Up Before You Go Go” nya Wham! diputar. Lagu ini mengingatkan saya ke jaman sekolah dulu, ketika group duo ini tengah merajai tangga lagu dunia.. Di kesempatan lain, saya sempatkan pagi hari untuk menikmati radio yang punya spesialisasi memutar lagu-lagu slow non stop. Mengalunlah “You” dari penyanyi negeri jiran, Basil Valdes, setelah itu George Duke dengan “Born To Love You’, KLA Project dengan “Yogyakarta” sampai “How Can I Fall” nya Breathe. Saya berpikir, 15-20 tahun kemudian lagu-lagu itu masih diputar, dan yang lebih mengagumkan lagi, masih enak untuk didengar. Lagu-lagu di jaman itu masih tetap “evergreen” dan tentunya masih diterima oleh kalangan luas berbagai lapisan pendengar radio sekarang. Sampai kapan lagu-lagu pada masa tersebut akan masih diputar dan dinikmati?. Lepas dari semua itu, masa 80-90an telah menghasilkan lagu-lagu yang masih tetap enak untuk didengar sampai sekarang. Tidak salah kiranya kalau ditarik sebuah kesimpulan, bahwa jaman itu (80-90an) adalah sebagai era keemasan musik pop. Setujukah anda?



THOUGHTS
2014 Krisna Mega